19 Januari 2009

Kutipan

1. Kutipan
Mengutip bukan merupakan suatu pekerjaan yang tercela.Bahkan, sepanjang dilakukan dengan jujur, mengutip merupakan suatu keniscayaan dalam menulis karya ilmiah. Namun begitu, jika dilakukan tampa kejujuran mengutip merupakan suatu tindakan plagiat (penjiplakan). Oleh sebab itu, sedapat mungkin dalam semua karangan ilmiah, mengutip harus disertai (notes).
Kutipan adalah bagian dari pernyataan, pendapaat, definisi, rumusan, atau hasil penelitian dari penulis lain atau penulis sendiri yang telah terdokumentasi. Kutipan dilakukan apabila penulis sudah memperoleh sebuah kerangka berpikir yang mantap. Jika belum, hasilnya akan merupakan karya "suntingan".
Pengunaan kutipan memiliki beberapa manfaat, yaitu:
1. Untuk menegaskan isi uraian
2. Untuk membuktikan kebenaran dari sebuah pernyataan yang dibuat oleh penulis
3. Untuk memperhatikan kepada pembaca materi dan teori yang digunakan penulis
4. Untuk mengkaji interpretasi penulis terhadap bahan kutipan yang digunakan
5. Untuk menunjukan bagian atau aspek topik yang akan dibahas
6. Untuk mencegah pengunaan dan pengakuan bahan tulisan orang lain sebagai milik sendiri (plagiat)
Ada beberapa cara mengutip yang dapat diterapkan secara bervariasi dalam tulisan. Jenis kutipan itu adalah sebagai berikut.

A. Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah kutipan persis apa adanya, tidak diubah, sama seperti yang dibicarakan/ditulis yang dikutip. Kutipan langsung ini biasanya digunakan jika kita menuliskan sesuatu yang riskan atau salah penafsiran jika dilakukan dengan kutipan tak langsung, misalnya: mengutip ayat suci, puisi atau pasal-pasal dalam undang-undang dan yang lain-lain yang membutuhkan keautentikan kutipan. Kutipan langsung terbagi atas kutipan panjang dan kutipan pendek. Kutipan panjang biasanya terdiri dari lima baris atau lebih. Penulisan biasanya berbentuk alinea baru, spasi tunggal, margin kiri masuk kedalam teks lima spasi dan tidak mengunakan tanda petik Kutipan pendek biasanya kurang dari lima baris. Penulisanya diintegrasikan dengan tulisan inti (teks), dua spasi, dan diberi tanda kutip. Prinsip yang harus diperhatikan pada saat mengutip langsung adalah
• Tidak boleh melakukan perubahan terhadap teks asli yang dikutip
• Harus mengunakan tanda [sic!], jika ada kesalahan dalam teks asli
• mengunakan tiga titik berspasi [. . .] jika ada bagian dari kutipan yang dihilangkan.
• Mencantumkan sumber kutipan dengan sistem MLA (The Modern Language Association), APA (The American Psycological Association), atau sistem yang berlaku sesuai dengan selingkung bidang.
B. Kutipan tak langsung (inti sari pendapat)
Kutipan tak langsung adalah kutipan yang sudah diubah redaksinya (kalimatnya). Dalam kutipan tak langsung yang dikutip hanya inti atau maksud pembicara/penulis yang dikutip. Redaksi diganti dan dibuat sendiri oleh penulis yang mengutip. Kutipan ini terbagi atas parafrase dan rangkuman. Parafrase adalah pengungkapan kembali maksud penulis dengan kalimat (redaksi) sendiri. Rangkuman adalah pengungkapan maksud penulis dengan kalimat (redaksi) sendiri dalam bentuk yang lebih pendek dari aslinya, misalnya aslinya adalah sepuluh halaman dirangkum menjadi dua kalimat. Semua kutipan tak langsung tidak mengunakan tanda petik. Kutipan tidak langsung dapat dibuat secara panjang maupun pendek dengan cara
• Diintegrasikan dengan teks
• Diberi jarak antarbaris yang sama dengan teks
• Dicantumkan sumber kutipan dengan sistem MLA, APA, atau selingkung bidang
C. Kutipan Pada Catatan Kaki
Kutipan pada catatan kaki, biasanya, merupakan kutipan langsung yang dapat dicantumkan secara panjang maupun pendek dengan cara.
• Selalu diberi jarak spasi rapat
• Diapit oleh tanda kutip, dan
• Dikutip tepat sebagaimana teks aslinya
D. Kutipan Ucapan Lisan dan Chatting (pembicaraan singkronik via internet)
Kutipan ucapan lisan atau chatting, sebenarnya, tidak terlalu dianjurkan dalam karya ilmiah. Akan tetapi, jika akan digunakan, hal-hal yang harus diperhatikan adalah.
• Meminta persetujuan dari sumber, sedapat mungkin berupa transkip yang ditandatangani nara sumber
• Mencatat tanggal dan peristiwa tempat ujaran itu diucapkan
• Menyebutkan dengan jumlah sumbernya
• Menuliskan kutipan secara langsung atau tidak langsung pada badan teks atau pada catatan kaki
2. Catatan-catatan
Catatan-cataan (Notes) biasanya digunakan untuk menunjukan sumber rujukan (maraji) kutipan. Ada tiga macam catatan: catatan kaki (footnotes), catatan akhir (endnotes), dan catatan dalam/catatan badan (innotes, bodynotes). Disamping untuk kutipan, baik catatan kaki maupun catatan akhir biasanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang berada diluar konteks pembicaraan, misalnya penjelasan yang mengangu jika ditulis dalam teks. Catatan kaki biasanya terletak dibawah teks, sedangkan catatan akhir terletak diakhir teks atau sebelum daftar pustaka. Catatan dalam, catatan badan biasanya terletak langsung sebelum atau sesudah kutipan dengan mengunakan tanda kurung. Perlu dinyatakan disini, bahwa susunan catatan kaki tidak dibalik
Fungsi catatan kaki dan catatan akhir ini tidak hanya untuk menunjukan sumber kutipan, tetapi ada beberapa fungsi lain. Jadi, ada empat fungsi catatan kaki dan akhir.
• Untuk manyusun pembuktian, khususnya yang berkaitan dengan pembuktian kebenaran yang dilakukan oleh penulis lain.
• Untuk referensi atau untuk menyatakan utang budi kapada penulis yang teksnya digunakan sebagai bahan kutipan.
• Untuk menyampaikan karangan tambahan yang dibutuhkan, namun tidak berkaitan langsung dengan karya ilmiah
• Untuk merujuk pada bagian lain dari karya ilmiah

Jika sitem catatan digunakan untuk manyusun pembuktian atau referensi, ada unsur-unsur dan aturan yang perlu diketahui oleh penulis karya ilmiah. Unsur-unsur yang harus yang digunakan sama dengan unsur-unsur yang digunakan dalam daftar pustaka.


Perbedaan antara sistem catatan dan daftar pustaka
SISTEM CATATAN SISTEM DAFTAR PUSTAKA
Nomor halaman dari sumber rujukan harus dicantumkan. Nomor hakaman tidak selalu harus dicantumkan
Nama sumber rujukan dicantumkan dengan urutan: nama diri diikuti oleh nama keluarga Nama sumber ditulis dengan nama keluarga terlebih dahulu, baru nama diri
Ada penyebutan referensi pertama dan penyebutan referensi lanjutan. Tidak ada penyebutan referensi lanjutan
Unsur-nsur yang harus dicantumkan dalam penyusunan referensi pertama adalah
• Nama penulis yang diawali dengan penulisan nama diri diikuti nama keluarga,
• Judul karya tulis yang dicetak miring dengan mengunakan huruf besar untuk huruf pertama kecuali kata sambung dan kata depan, dan
• Data publikasi berisi nama tempat (kota), koma, dan tahun terbitan yang diletakan diantara tanda kurung, dan namor halaman yang diletakan di luar tanda kurung, contoh: (Jakarta: Djambatan,1967), 49¬-51
• Untuk kutipan dari buku berjilid atau dari jurnal/majalah ilmiah,nomor jilid mengunakan angka romawi atau angka arab, diikuti dengan data publikasi dalam kurung, koma, dan diakhiri nomor halaman yang mengunakan angka arab, contoh: MISI, I (April,1963): 27-30
Jika dalam sistem catatan terjadi perujukan lanjutan yang merujuk pada sumber yang sama, digunakan singkatan yang berasal dari bahasa latin untuk merujuk pada sumber pertama. Ketiga jenis singkatan itu adalah sebagai berikut.
a) Ibid. : sinkatan ini berasal dari kata lengkap ibidem yang berarti 'pada tempat yang sama'. Singkatan ini digunakan jika perujukan lanjutan mengacu langsung pada karya yang disebut dalam perujukan nomor sebelumnya. Jika nomor halaman pengacuan sama, tidak perlu dicantumkan nomor halaman. Jika nomor halamanya berbeda, setelah Ibid. Dicantumkan nomor halamanya. Ibid. Harus diikuti oleh titik dan dicetak miring. Contoh: Ibid., 87
b) Op.cit. : Singkatan ini berasal dari gabungan kata opere citato yang berarti 'pada karya yang telah dikutip'. Singkatan ini digunakan jika perujukan lanjutan mengacu pada perujukan pertama yang berasal dari buku, namun diselingi oleh perujukan lain. Teknik penulisanya adalah mengunakan nama keluarga penulis, diikuti oleh Op. Cit., diikuti oleh nomor halaman, jika halaman perujukanya berbeda dari perujukan pertama. Contoh: Keraf, op. Cit., 37
c) Loc. Cit. : Singkatan ini berasal dari gabungan kata loco citato yang berarti 'pada tempat yang telah dikutip'. Singkatan ini digunakan jika perujukan lanjutan mengacu pada perujukan yang pertama yang berasal dari artikel dalam bunga rampai/antologi, majalah, ensiklopedia, surat kabar, namun diselingi oleh perujukan lain. Oleh karena hanya merupakan bagian dari suatu buku, majalah, surat kabar (atau opus, 'karya'), artikel yang dirujuk dengan locus yang berarti 'tempat'. Teknik penulisanya adalah mengunakan nama keluarga penulis, diikuti oleh Loc. Cit., diikuti oleh nomor halaman, jika halaman perujukanya berbeda dari perujukan pertama. Contoh: Anjuang, Loc, Cit., 40
3. Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka dalam tulisan merupakan hal yang tidak boleh ditiadakan. Hal ini berhubungan erat dengan rujukan. Bagian daftar pustaka dicantumkan pada bagian akhir sebuah tulisan. Jika tulisan ilmiah mempunyai lampiran, daftar pustaka diletakan sebelum bagian lampiran.
Yang harus diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka adalah:
• Satu orang penulis dan satu karya
• Dua orang atau lebih penulis dan satu karya
• Satu orang atau lebih penulis dan satu atau lebih karya, dan
• Lembaga sebagai penulis
Jika ditinjau dari segi media penyajian tulisan, masalah yang perlu diperhatikan adalah :
• Makalah
• Buku
• Bagian buku
• Majalah/surat kabar/artikel
• Buku terjemahan
Dan jika yang ditinjau dari segi penerbitan, yang diperhatikan ialah telah diterbitkan.
Daftar pustaka/rujukan berisi daftar semua pustaka dan rujukan yang dijadikan acuan/pegangan penelitian. Rujukan yang tidak relevan tidak boleh dicantumkan dalam daftar pustaka. Penelitian yang tidak mencantumkan daftar pustaka merupakan penelitian yang tidak lengkap dan bernilai rendah.
Daftar pustaka diketik mulai margin kiri dan disusun secara alfabetis, tanpa nomor, dengan urutan sebagai beriku
1) Nama pengarang,
2) Tahun penerbitan,
3) Judul penerbitan,
4) Tempat penerbitan,
5) Nama penerbitan, atau
1. Nama instansi atau badan penerbitan
2. Tahun penerbitan
3. Judul penerbitan,
4. Tempat penerbitan.
Tiap penyebutan keterangan pustaka diakhiri dengan tanda titik, kecuali penyebutan tempat penerbitan diakhiri dengan tanda titik dua. Nama pengarang mengukuti standar internasional, yaitu nama paling belakang ditarik ke depan diikuti dengan tanda koma. Judul ditulis dengan huruf miring, sedangkan subjudul ditulis dengan tanda petik dua. Contoh :
1. Daftar pustaka untuk buku
Cornel, Naiboku. 1985. Keteknikan Pabrik dalam Suatu Sistem Managemen Industri. Jakarta: Akademika Pressindo CV
Kartodirdjo. 2005. Sejak Indische Sampai Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Risdale. R. E. 1986. Electric Circuits: For Enginering Technology. Tokyo: Mc. Grawill
2. Daftar pustaka untuk majalah, surat kabar, brosur, catalog
"Arsitektur dan Kepentingan Konsumen" dalam Konstruksi. Nomor 6.1985:58
"Tajuk Rencana" Kompas 23 juni 2007
3. Daftar pustaka diktat, catatan kuliah (yang dicetak untuk kalangan sendiri/belum diterbitkan)
Ahmadi, Muklis, dkk.2000. Komposisi Bahasa Indonesia I: Tipe dan Jenis Bentuknya. Malang:IKIP
4. Daftar pustaka makalah
Pajaitan, Beni, dkk. 1986. Pembuatan Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat
UI, Depok (laporan praktek kerja). Jakarta:UI
5. Daftar pustaka terbitan instansi/lembaga
MPR RI. 1996. Hasil-Hasil Sidang Umum IV. Jakarta : Departemen Penerangan RI
6. Daftar pustaka sumber dari internet
Arifin, Muhamad. 2006. Kontuinitas dan Perubahan Nasionalisme di Indonesia dalam persepektif Global dan Lokal. http://fisip.unmul.ac.id.nasionalisme/. Akses April 2006





DAFTAR KATA SERAPAN DARI BAHASA BELANDA
• Arbei : Aardbei
• Arsitek : Architect
• Bank : Bank
• Bioskop : Bioscoop
• Buku : Boek
• Dansa : Dansen
• Directur : Directuur
• Dokter : Dokter
• Dosen : Docent
• Fungsi : Functie
• Handuk : Handoek
• Kantor : Kantuur
• Karcis : Kaartje
• Koper : Koffer
• Kondektur : Conducteur
• Kulkas : Koelkast
• Maret : Mart
• Masinis : Machinist
• Maskapai : Maaschappaij
• Mesin tik : Tijpmachine
• Montir : Monteur
• Partai : Partij
• Preman : Vrijman
• Presiden : President
• Republic : Repbuliek
• Sepur : Spoor
• Suster : Zuster
• Tekstur : Textuur
• Telepon : Telefoon












DAFTAR PUSTAKA

Fitriyah, Mahmudah dan Ramlan Abdul Gani. 2007. Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta: UIN Jkarta Press
Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Jakarta: Grassindo
Felicia N. Utorodewo, dkk. 2007.Bahasa Indonesia: Sebuah pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta: lembaga penerbit FEUI








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar